Friday, December 14, 2012

#CeritaHongKong : Wisata Kuliner Hong Kong

Salah satu daya tarik Hong Kong adalah wisata kuliner. Konon kabarnya di sana banyak terdapat restoran-restoran dengan kualitas nomor satu. Dari restoran mewah kualitas bintang lima hingga restoran sederhana dengan kualitas yang setara. Sebagai seorang yang doyan makan seperti saya, kuliner Hong Kong sangat menggoda untuk dijelajahi.

Dalam petualangan saya di Hong Kong 3-6 November yang lalu, Hong Kong berhasil memberi bukti nyata, kalau negara itu memang salah satu negara terbaik dalam urusan wisata kuliner. Selama empat hari di sana, setidaknya ada lebih dari satu restoran bersertifikasi bintang Michelin dengan harga miring yang berhasil saya kunjungi.

1. Ho Hung Kee

Salah satu makanan yang wajib dicicipi di Hong Kong adalah wonton noodles yang aslinya berasal dari daerah Canton, Cina. Wonton noodles adalah mie yang disajikan dengan kuah panas yang ditaburi sedikit daunan hijau, disertai dengan pangsit yang biasanya terbuat dari udang.

Dari sekian banyak restoran wonton noodles hasil pencarian saya di internet, salah satu yang paling menarik adalah Ho Hung Kee. Restoran ini menarik karena selain harganya terjangkau, tempat ini dianugerahi 1 bintang Michelin, yang merupakan penghargaan bergengsi dalam dunia bisnis rumah makan.

Ho Hung Kee beralamat di 2 Sharp Street East. Lokasinya tak jauh dari stasiun MTR Causeaway Bay. Dari stasiun, keluarlah dari exit A. Kemudian akan terlihat Hong Kong Times Square yang letaknya membelakangi badan. Setelah itu berjalanlah menuju Matheson St dan jika mulai bingung, bertanyalah kepada orang-orang disekitar situ, kebanyakan dari mereka akan tahu dimana restoran itu berada.

Restoran ini kecil. Sederhana. Meja yang tersedia terbatas. Beruntung, ketika datang siang itu, saya langsung mendapat tempat duduk, karena sesaat setelah saya masuk banyak pengunjung yang harus rela mengantri di luar.

Untuk restoran yang kecil, kebersihan di tempat ini cukup terjaga. Interiornya pun diatur dengan rapih. Hal yang cukup unik dari tempat ini adalah dapurnya terletak di depan. Dapur bubur di sebelah kiri dan mie di sebelah kanan. 

Setelah mengantar saya ke meja, seorang wanita paruh baya yang entah pelayan atau pemilik restoran memberikan menu. Pilihan menu cukup banyak, disertai gambar dan ditulis dengan Bahasa Inggris sehingga sangat memudahkan untuk memilihnya. Diantara banyaknya pilihan menu yang tersedia, pilihan saya jatuh kepada House Specialty Wonton Noodle seharga $HK34.  Karena memang wonton noodle tujuan saya, meskipun banyak menu lain yang menarik dan sangat menggoda seperti aneka bubur, mie goreng dan menu lainnya yang umum disajikan di retoran khas Cina.

Sepuluh menit kemudian, pesanan saya datang. Wonton noodle itu disajikan di mangkok berisi kuah panas dan mie kuning tipis yang menyembunyikan empat buah pangsit udang. Taburan dedaunan hijau dan sedikit batang asparagus melengkapai tampilan menu yang menjadi unggulan di restoran itu.

Meski penyajiannya sederhana dan kurang menggugah selera, namun aromanya sedap terhirup. Segar. Sukses mengundang air liur berkumpul di sekitar mulut dan membuat saya ingin segera mencicipinya.

Pertama yang saya cicipi adalah kuahnya. Rasanya sangat segar. Sesedap aromanya. Taburan batang asparagus membuat kuahnya menjadi sangat nikmat disantap. Selanjutnya, saya mulai melahap mie kuningnya. Mienya tipis dan lembut. Setipis dan selembut bihun, namun padat, gurih dan rasanya lezat. Sangat lezat.

Dan ‘bom’ dari masakan ini adalah pangsitnya. Pangsit udangnya padat. Besar-besar. Ketika digigit, pangsit itu seperti meledak dan membanjiri seisi mulut dengan sebuah kelezatan yang dahsyat. Luar biasa enak. Rasa udangnya sangat segar. Tak ada amis sedikitpun. Sempurna.

Rasa penasaran saya lenyap sudah. Puas. Begitu perasaan saya setelah melahap habis semangkok wonton noodle itu. Dari segala jenis masakan mie, wonton noodle Ho Hung Kee ini adalah salah satu mie terlezat yang pernah saya cicipi. Kelezatannya di atas rata-rata. Istimewa. Dan tidak heran kalau restoran ini mendapat penghargaan satu bintang Michelin. 

Ho Hung Kee's Specialty Wonton Noodles

Prawn Dumplings

Ho Hung Kee Restaurant

2. Tim Ho Wan

Selain wonton noodle, makanan yang harus dicicipi di Hong Kong adalah dim sum. Dan berdasarkan penjelajahan saya di dunia maya, untuk urusan dim sum,  nama Tim Ho Wan punya reputasi yang membahana.

Hampir semua artikel dan blog yang saya baca merekomendasikan restoran ini. Menurut informasi tersebut, dim sum Tim Ho Wan adalah salah satu yang terbaik di Hong Kong. Satu lagi restoran murah di Hong Kong yang punya 1 bintang Michelin.

Dengan segala informasi yang menarik tersebut, maka tempat ini adalah salah satu tujuan wisata kuliner saya.

Sore itu saya turun di stasiun Mong Kok, demi mencari jalan Kwong Wa 2-20, tempat di mana restoran Tim Ho Wan berada. Setelah berputar-putar dan sempat nyasar cukup lama, akhirnya saya menemukan peta yang terpajang di prempatan jalan Argyle St. Dan ternyata Kwong Wa St lebih dekat dan mudah dijangkau dari stasiun Yau Ma Tei.

Singkat cerita, akhirnya saya menemukan jalan itu. Dari kejauhan terlihat satu tempat yang dikerumuni banyak orang. Tidak lain dan tidak bukan, tempat itu adalah Tim Ho Wan. Restoran ini sangat mudah dikenali. Di depannya terdapat banyak sepeda motor yang diparkir dan sepanjang jalan itu penuh dengan toko aksesoris sepeda motor.
Untuk bisa masuk ke restoran itu butuh kesabaran. Karena tempatnya yang kecil dan tidak sesuai dengan jumlah pengunjung yang banyak, mau tidak mau setiap pengunjung yang sudah sampai ke sana harus menunggu cukup lama.

Lebih dari setengah jam saya menunggu sebelum akhirnya, nomor antrian saya dipanggil. Saya memasuki restoran itu dan duduk di bagian belakang persis di depan dapur. Tempatnya sempit dan kecil. Interiornya sangat sederhana dan cenderung apa adanya.

Namun itu bukan suatu masalah buat saya, yang saya cari adalah kelezatan. Toh meski dengan tempat yang sempit, di sana cukup nyaman. Dan tentunya pikiran saya lebih tertarik dengan pilihan menu yang tersedia.

Saya memesan 5 jenis makanan. Steamed fresh shrimp dumplings, steamed pork dumplings with shrimp, baked bun with BBQ pork, steamed beef ball with bean curd dan deep fried dumpling filled with meat.

Pesanan saya yang datang pertama adalah baked bun with BBQ pork. Bakpao panggang yang isinya adalah daging babi panggang. Satu porsi berisi tiga buah. Namun setelah mencobanya, tiga buah tidak akan pernah cukup.

Rotinya manis dan renyah. Dan yang paling nikmat adalah isinya yang wujudnya seperti selai, berwarna coklat kemerahan berisi potongan babi panggang. Isinya yang hangat dan lumer di mulut sungguh memanjakan lidah. Ketika isi bakpao itu mulai meleleh dan membanjiri setiap sudut dinding mulut, sensasinya luar biasa. Kelezatan tiada tara mulai terasa. Daging babinya gurih, bikin nagih. Manis bumbunya terasa pas di lidah. Kombinasi semuanya itu menghasilkan sebuah rasa lezat yang berkualitas.

Menu lainnya yang istimewa adalah steamed fresh shrimp dumplings dan steamed pork dumplings with shrimp. Kedua dim sum ini rasanya luar biasa lezat. Ini adalah dim sum yang sebenarnya. Orisinil. Segarnya tak tertandingi. Rasanya mewah. Tak bercela. Bermutu tinggi. Beda kelas dengan dim sum yang biasa dinikmati pada resepsi pernikahan. Sangat jauh berbeda.

Sedangkan steamed beef ball with bean curd rasanya seperti bakso urat biasa namun diperkaya dengan kembang tahu dan daun serai. Tidak terlalu istimewa buat saya, namun lumayan enak dan cukup mengenyangkan karena ukurannya yang cukup besar. Dan menu yang terakhir, deep fried dumpling filled with meat kurang cocok di lidah saya. Bentuknya seperti kue pastel kecil. Lengket di mulut dan manisnya berlebihan.

Tak percuma saya menunggu cukup lama. Akhirnya terbukti sudah kualitas dim sum di Tim Ho Wan.  Satu lagi restoran sederhana yang istimewa di Hong Kong, dengan harga murah namun berkualitas mewah. 1 bintang Michelin yang diperoleh, mempertegas restoran ini wajib dikunjungi di Hong Kong.

Baked Bun with BBQ Pork (outside)

Baked Bun with Pork (inside)

Steamed Fresh Shrimp Dumplings


Steamed Pork Dumplings with Shrimp

Steamed Beef Ball with Bean Curd

Deep Fried Dumpling Filled with Meat
Tim Ho Wan Restaurant


3. Tsim Chai Kee

Sepulang dari Macau, dari Hong Kong-Macau Ferry Terminal, Shun Tak Centre Hong Kong Island saya berjalan menuju daerah Central mencari Tsim Chai Kee, satu lagi restoran wonton noodle yang punya reputasi memukau dari hasil riset saya di dunia maya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang melewati jalan layang khusus untuk pejalan kaki dan sambung menyambung menggunakan eskalator di daerah Soho, akhirnya saya tiba di 98 Wellington St. Central. Saya menemukan Tsim Chai Kee, yang malam itu penuh oleh pengunjung. Saya sempat sedikit bimbang, karena persis di depan Tsim Chai Kee ada juga sebuah restoran wonton noodle yang terkenal, Mak’s Noodle.

Suasana Mak’s Noodle malam itu sepi dan nyaris tanpa pengunjung. Yang terlihat dari luar adalah bangku-bangku kosong, pelayan yang menganggur dan juru masak yang minim kesibukan. Untuk restoran yang terkenal, suasana itu sangat meragukan saya. Akhirnya saya mantap memilih Tsim Chai Kee, dan ternyata pilihan saya tepat.

Menu yang saya pilih adalah wonton noodles with shrimp dumplings and fresh meat slices seharga $HK 27. Harganya lebih murah dan porsinya lebih banyak dari Ho Kung Hee.

Menu disajikan dengan tampilan visual yang sangat menggoda. Potongan daging sapi segar yang warnanya coklat kemerahan mengambang di mangkok. Dua buah pangsit jumbo menyembul ke permukaan seakan memanggil-manggil untuk segera disantap. Taburan daun bawang menghiasi hidangan itu menjadi semakin berwarna. Sementara mie kuningnya terlihat samar-samar tertutup potongan daging dan pangsit.

Rasanya? Luar biasa lezat. Kuahnya sedikit lebih kental dan pedas karena saya menaburi minyak dan bubuk cabai yang tersedia di setiap meja makan. Kuah kaldu segar bercampur efek pedas itu sangat membahagiakan lidah saya. Mie kuningnya tipis, kenyal dan padat. Rasanya segar dan tidak tawar. Entah tepung terigu dan adonan jenis apa yang ada pada mie itu, yang jelas kelezatannya juara.

Setiap potongan daging sapi yang ada di mangkok itu rasanya segar, empuk dan lembut. Bersahabat di mulut. Dan yang istimewa tentunya pangsitnya. Lezatnya tak terkalahkan. Rasanya ingin lama-lama menyimpannya di mulut agar kelezatannya tidak segera hilang. Kelezatan rasa udangnya tidak main-main. Sangat nyata di lidah. Segarnya tingkat tinggi, diracik dan dimasak dengan sempurna. Enaknya keterlaluan hingga sanggup membuat saya memejamkan mata sesaat saking nikmatnya.

Meski tidak mendapatkan bintang Michelin (walaupun di pintu restoran banyak tempelan Michelin Guide tapi bukan bintang) buat saya wonton noodles Tsim Chai Kee adalah yang terlezat. Kelezatannya lebih istimewa jika dibandingkan dengan wonton noodles di Ho Hung Kee.
Tsim Chai Kee's Wonton Noodle with Fresh Meat Slice & Shrimp Dumplings

Tsim Chai Kee Restaurant

Sunday, December 2, 2012

#CeritaHongKong : Dimarahi Tamu Hostel

Ashoka Hostel. Pukul 22.30. Saya dan Risty akhirnya tiba di hostel setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Ketika membuka kamar, lampu sudah dimatikan. Ada seorang tamu baru di kamar yang sudah tidur. Tak mau menggangunya, kami berusaha berbincang sepelan mungkin.

Lampu kemudian kami nyalakan. Tak lama kemudian, tamu itu terbangun. Tamu itu seorang wanita berwajah oriental yang sepertinya berasal dari Cina. Dengan wajah cemberut, wanita itu terduduk sambil menggaruk-garuk kepalanya. Saya melemparkan senyum, berusaha untuk ramah. Namun bukan senyum yang saya dapat, melainkan wajah judes yang membangkitkan sentimen.

Ia nampak terganggu, kemudian berusaha tidur lagi tapi sepertinya tidak bisa. Setelah itu ia keluar kamar. Saya kemudian segera mandi dan beres-beres. Setelah saya selesai mandi, tamu wanita itu sudah kembali di tempat tidurnya namun masih terlihat gelisah.

Karena badan sudah lelah, saya segera naik ke atas tempat tidur untuk segera beristirahat. Memejamkan mata dan kemudian terlelap.

Pukul 06.30, alarm pada ponsel saya berdering, membangunkan saya dari tidur yang cukup nyenyak. Saya yang tidur di tempat tidur tingkat bagian atas, segera ke turun ke bawah membangunkan Risty.

Dengan semaksimal mungkin saya tidak membuat kegaduhan atau berisik, karena si tamu wanita itu terlihat masih tidur. Tak mau membuang waktu saya segera mandi. Setelah saya selesai, Risty gantian mandi.

Menunggu Risty selasai mandi, saya kemudian bersantai di tempat tidur Risty di bawah sambil membaca berita di Ipad dan tidur-tiduran, tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Tamu wanita itu bangkit dari tidurnya dan kemudian membentak saya. “Thank you!! Xie Xie!! #$%%**#@$!!! Thank you Xie Xie!! #$@%^$((#$!!” bentak wanita itu kepada saya dengan bahasa Mandarin yang entah apa artinya.

Saya terdiam. Terpaku.  Bingung. Tak mengerti apa salah saya. Perasaan, saya sudah berusaha menimalkan volume suara dan sudah berusaha maksimal untuk tidak membuat kegaduhan. “I’m sorry, did I do something wrong?” Saya bertanya keheranan kepada wanita itu. Dia kemudian hanya diam, melotot hingga bola matanya nyaris keluar kemudian membanting pintu dan keluar.

Saya sama sekali tidak mengerti apa salah saya. Apa mungkin gara-gara suara alarm dia jadi terbangun? Atau dia mengalami mimpi buruk dan saya ada di mimpi buruknya? Yang jelas dia sepertinya sangat terganggu. Kesal. Tidak rela tidurnya terputus. Padahal saat itu sudah pagi, sudah hampir pukul tujuh. Waktu normal untuk bangun pagi.

Saya mungkin dianggap perampok. Perampok mimpi indah dan tidur nyenyaknya. Entahlah. Sampai detik ini pun saya tidak tahu kenapa wanita itu bisa semarah itu, padahal saya merasa tidak berbuat sesuatu yang berlebihan.

Demi apapun, ini adalah hostel mix dorm dan bukan private room hotel bintang lima. Kalau ingin lebih mendapatkan privasi, mengapa tidak memesan single room atau menginap di hotel yang lebih mewah? Dijamin di sana akan lebih nyaman tidurnya.

Ada-ada saja kelakuan tamu itu. Seharusnya dia tahu konsekuensinya menginap di mix dorm hostel seperti ini. Setiap tamu pasti punya kepentingan masing-masing. Dan kebetulan kami saat itu harus bangun pagi untuk mengejar kapal feri ke Macau, jadi mau tidak mau kami harus bangun pagi dan alarm wajib untuk dinyalakan.

Menginap di hostel mix dorm memang tidak bisa diprediksi dan selalu penuh kejutan. Kelakuan tamu tidak bisa ditebak. Ada yang asik, ada yang berisik. Ada yang ramah, ada juga yang suka marah-marah. Kalau beruntung, tamu hostel malah bisa jadi teman seperti yang saya alami di Singapura. Kalau lagi apes, makian dan dampratan bisa mendarat telak di kuping seperti yang saya alami ini. Apa pun bisa terjadi di hostel mix dorm.