Friday, November 23, 2012

#CeritaHongKong : Fenomena TKW Indonesia

Sebelum menginjakan kaki di Hong Kong, saya tidak tahu menahu ada banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia di sana. Namun apa yang saya lihat di Hong Kong sukses membuat saya tidak berhenti menggelengkan kepala. Terheran-heran. Tertawa cekikikan. Hingga berdecak kagum. Saya melihat sebuah fenoma yang fantastis.

Hari itu hari Minggu. Sepanjang hari di daerah Central, di stasiun MTR, di dalam kereta, di Nan Lian Garden, dan di sekitar pusat kawasan Kowloon saya melihat banyak sekali wajah-wajah familiar. Wajah-wajah saudara sebangsa dan setanah air. Wajah Indonesia. Mereka kebanyakan wanita dan samar-samar terdengar mereka sedang berdialog menggunakan bahasa Jawa. Mereka adalah TKW asal Indonesia yang sedang mengadu nasib di Hong Kong.

Tak ada muram di wajah mereka. Yang ada hanya keceriaan. Penuh senyum. Penuh tawa. Hari itu mereka nampak bahagia, sebahagia tahanan yang baru bebas dari penjara.  

Mereka sedang menikmati hari libur mereka. Hari kebebasan. Dan untuk merayakan kemerdekaan itu, mereka mengekspresikannya dengan cara yang luar biasa. Mereka bergaya dan berpenampilan habis-habisan. Dandanan mereka spektakuler. Lebih tinggi di atas level modis. Lebih gila daripada anak gaul Jakarta. Baju, tas, sepatu bermerek menempel di tubuh mereka. Dengan aksesoris bling-bling yang menyilaukan mata. Tak ketinggalan telepon genggam dan gadget terbaru masa kini yang menempel erat pada tangan mereka.

Mau lihat hmm…sebut saja Ijah, bergaya hippies remix? Pakai bandana, rambut rebonding, kaos warna warni, celana pendek, sepatu high cut sneakers? Di Hong Kong ada. Mau lihat Ijah pakai dress ketat, rok mini motif macan tutul, plus sepatu wedges hak tinggi setebal kamus Bahasa Inggris paling lengkap, sambil menjinjing tas kulit merek ternama? Di sana ada. Atau mau lihat Ijah bergaya ala Missy Elliot dengan rambut keribo, pakai hoodie kegedan, celana training gombrong, plus sepatu Nike SB terbaru yang warnanya ngejreng dengan kalung bling-bling melingkar di leher? Di Hong Kong ada.

Dari bergaya ala breakdancer hingga bergaya bak rocker yang sedang di puncak ketenaran, semuanya dilakukan oleh para TKW itu. Dan itu semua hanya ada di Hong Kong.

Tak tahu harus bilang apa melihat itu semua. Saya hanya bisa tertawa. Cekikikan menahan geli. Bukan maksudnya menghina atau mencela mereka, tapi entah mengapa melihat itu semua tak bisa membuat saya menahan diri untuk tertawa. Saya sangat terhibur. Bahkan pada saat saya menulis ini dan mengingat-ingat dandanan mereka saya masih tertawa.

Melihat itu, saya langsung teringat dengan mantan pembantu rumah tangga yang dulu bekerja di rumah. Mbak Amik namanya. Perempuan desa asal Madiun dengan logat Jawa medok yang tidak tahu bagaimana caranya bergaya. Nah, Di Hong Kong saya melihat banyak orang seperti mbak Amik dandan gila-gilaan tanpa peduli mereka terlihat keren atau jadi lebih mirip dengan orang yang kurang waras. Mereka tak peduli apakah semua itu pantas dikenakan mereka. Tak peduli orang mau bilang apa. Yang penting mereka ceria dan bisa tertawa bahagia.

Itu lah yang membuat saya tertawa geli hingga nyaris lupa berhenti. Mohon maaf, tapi menurut subjektifitas kacamata saya, dengan berdandan seperti itu, mereka bukannya jadi keren, tapi malah menjadi bahan tertawaan. Jika ada razia oleh Fashion Police, mungkin mereka akan ditangkap dan kemudian dihukum karena melanggar hukum fesyen.

Hanya di Hong Kong, saya melihat TKW yang sangat bahagia seperti itu. Di hari libur itu, mereka dapat menikmati indahnya hidup sebagai manusia. Tidak ada lagi perbedaan antara pembantu dan majikan. Tidak ada perbedaan kelas. Semuanya setingkat. Sederajat.

Hal ini sangat berbeda dengan TKW Indonesia di Malaysia atau Arab Saudi yang sering sekali diberitakan media tentang hal-hal yang menyedihkan seperti penyiksaan, pelecehan dan bahkan pembunuhan atau pemerkosaan. Di Hong Kong tidak seperti itu. Jarang ada kejadian miring yang diberitakan. Yang saya lihat di sana hanya kebahagiaan dan keceriaan para TKW.

Saya sempat berbicara dengan seorang TKW di kereta. Menurut dia di Hong Kong, majikan memperlakukannya dengan baik, mereka diperlakukan dengan layak. Mereka pun dapat jatah libur. Namun tidak semua juga seperti itu. Menurutnya itu semua tergantung nasib baik. Ada juga yang diperlakukan tidak layak, namun hanya sedikit. Ketika saya bertanya tentang gaji per bulan, dia hanya tersenyum malu dan tak mau menyebutkan berapa angkanya. “Ya cukuplah mas, untuk hidup, bisa ngirim duit buat orang kampung dan sisanya ditabung.” Jawab TKW itu malu-malu.

Di Hong Kong mereka bisa menjadi manusia yang sejahtera. Berpenghasilan besar dan hidup layak. Mereka bisa beli apa saja yang mereka mau. Mereka bisa terus mengejar mimpi-mimpi mereka.

Di Hong Kong, dari seorang pembantu mereka bisa berubah drastis menjadi bak seorang peragawati yang sedang berjalan di catwalk. Baju-baju modis trendi masa kini menjadi busana mereka. Trotoar di sepanjang Kowloon dan objek-objek wisata di Hong Kong adalah catwalk dan panggung mereka, Mereka berjalan dengan percaya diri, tanpa peduli orang akan mencaci atau mengapresiasi.

Tidak ada salahnya dengan hal itu. Terlepas dari seberapa abstraknya dandanan, terlepas dari keren atau tidak, pantas atau tidak pantasnya dandanan mereka, para TKW itu adalah manusia yang punya hak sama seperti kita semua untuk menikmati hidup dan bahagia. Dan saya turut berbahagia untuk mereka.

TKW Indonesia Di HK #1

TKW Indonesia di HK #2


No comments:

Post a Comment